Posted by: rinastiti | May 5, 2008

Kemana angin membawa…?

Menjadi guru di level universitas atau lebih jamak disebut dosen menurutku adalah panggilan hati.
Terutama di Indonesia (mungkin..).
Tak pernah aku rencanakan bahwa saya akan mengawali perjalanan karirku dengan menjadi asisten dosen.
Ketika selesai pelantikan dokter gigi, tiba-tiba saja saya mempunyai niat untuk menuju kesana.
Mungkin juga karena atmosfer di keluarga saya yang cukup kental dengan kehidupan belajar mengajar.
Yang jelas, setelah menjalaninya, saya menemukan bahwa inilah dunia saya.

Waktu berlalu, dan saya terus belajar untuk menjadi guru.
Hingga di hari ini, ketika saya boleh merasakan pendidikan disini, dengan situasi yang berbeda dengan kampus dimana saya mengajar.

Ya..sebagai dosen di Indonesia, kami memang harus selalu berpegang pada Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian masyarakat.
Dana yang terbatas ataupun alat yang tak memadai (meskipun hal ini masih bisa diakalin dengan melintas berbagai lab di lain bagian atua bahkan lain universitas dan institusi) membuat dharma kedua terseok jalannya.
Pengajaran masih menjadi hal yang utama dan pertama dalam menjalankan tugas sebagai dosen. Setiap awal semester, kepala bagian dan seluruh staff sibuk untuk mengatur siapa mengajar apa, jam kuliah, persiapan praktikum, bahan dan alat dan bebagai hal yang sejenis. Sementara strategi penelitian tidak pernah dipikirkan.
Dengan lingkaran tersebut, penelitian sekan menjadi terpinggirkan.
Banyak teman-teman dosen yang terjebak dalam kenyamanan publikasi ilmiah demi menaikkan poin untuk kenaikan pangkat dan jabatan dengan menuliskan telaah pustaka.
Banyak senior-senior yang tidak pernah lagi turun ke lab. Apalagi jika sudah merasakan kenyamanan finansial dengan ketrampilan tangannya sebagai dentist.
Padahal, bukankah kita sudah mencanangkan diri sebagai Research University..?
Fakultas apapun, fakultas-fakultas basic science maupun fakultas terapan semacam kedokteran gigi, harus konsekuen dengan perubahan tersebut.

Saya pribadi sangat menyukai suasana riset.
Saya menikmati saat-saat bekerja di lab dengan independensi yang luar biasa.
Saya menyenangi saat-saat mencemaskan menunggu hasil yang didapat, dan saat-saat membingungkan ketika mengkorelasikan data dan teori.
Saya senang ketika di lab saya tak perlu berbasa-basi dengan banyak orang (ah.. apakah aku termasuk kategori orang yang cenderung soliter..?)

Semakin saya menikmati keadaan di BMSA department Groningen, semakin saya enggan untuk pulang.
Tapi saya tahu bahwa saya harus pulang.
Sedih sekali ketika seorang teman publikasi ilmiahnya tidak dihargai untuk kenaikan pangkatnya, karena dianggap penelitiannya ketika PhD tidak inline dengan SK penempatannya..
Akankah aku besok mengalami hal yang serupa..?
Akankah ketika saya menyelesaikan tugas belajar saya, saya hanya akan disibukkan oleh aktivitas pengajaran…?
Akankah sulit mencari peluang untuk meneruskan penelitian saya yang lebih berorientasi pada basic science daripada klinis ketika saya pulang..?
Haruskah saya tetap mengajar endodontic padahal saya menekuni composite resin..?
Ah…
Terus terang saya cemas…
Ingin rasanya terus pergi dengan melamar post doc dan ini itu..
Kemanakah angin akan membawa…….?
Mestinya saya tak boleh pula tersesat dalam pusaran angin itu….

Advertisements
Posted by: rinastiti | May 5, 2008

Belgium

Sejak tanggal 30 April, saya libur karena hari itu merupakan Koninginedag, hari lahir Ratu.
Berhubung saat itu hari Rabu dan Hari Kamis libur lagi karena hari Kenaikan Tuhan Yesus, maka saya memutuskan untuk berjalan-jalan ke Belgia selama 4 hari.
Perjalanan dimulai dari Brussel, dilanjutkan dengan Leuven, Brugge dan ditutup dengan city tour di Antwerpen.

Belgia, meskipun dekat dengan Belanda, tetapi ternyata mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Belanda.
Orang-orangnya mempunyai postur tubuh yang lebih kecil.
Mereka berbicara dalam dua bahasa, yaitu Perancis dan Bahasa Belanda yang agak asing ditelinga saya, karena saya terbiasa mendengar bahasa Belanda ala Utara dimana Ghhhheeee dibaca dengan suara kumuran ditenggorokan yang kental ūüėÄ
Sepeda yang menjadi kendaran populer di Belanda, sangat jarang dijumpai disini.
Terutama di Brussel dan Antwerpen… jalanan lebar-lebar dan dipenuhi dengan mobil-mobil.
Menyeberang jalan tak lagi senyaman menyeberang jalan di Groningen, dimana pasti pejalan kaki menjadi raja di jalanan.
Tengok kiri dan kanan harus dilakukan, meski lampu berwarna hijau bagi pejalan kaki.

Bangunan-bangunan di Belgia mempunyai pintu yang tinggi-tinggi disertai detail yang rumit pada dinding-dindingnya. Dan kata teman saya, Dendi, bangunan-bangunan itu bercirikan Gothic.
Saya mencoba mencari referensinya disini
Di Antwerpen, ada pula gaya art – nouveau yang ada di dekat antwerpen zuid station.
Saya yang biasanya tidak mengerti mengenai corak-corak arsitektur bangunan, menjadi sangat tertarik dengan perbedaan-perbedaan tersebut.

Disetiap persimpangan jalan, ada kekhasan yang dapat pula saya nikmati.
Pada tembok yeng berada di hook, sebelah atas, hampir selalu dipastikan ada patung tokoh suci berdiri diatasanya. Bahkan di Brugge, dibawah patung tersebut selalu ada pot menggantung, yang ditumbuhi bunga-bunga spring. Seakan melambangkan devosi pada tokoh-tokoh kudus tersebut.
Patung-patung berukuran besar juga banyak tersebar di centrum.
Patung-patung itu bisa merupakan patung seorang pelukis terkenal, pejuang atau pangeran. Sedangkan patung-patung yang lebih modern mempunyai tema-tema tertentu yang tak kalah menarik untuk dinikmati.
Patung manneken piss di Brussel, cute sekali….

Maneken Pis

Maneken Pis

Perjalanan ke Belgia kali ini membawa saya pada ketertarikan baru diluar seni musik.
Setelah kroller-muller musea yang membawa saya pada lukisan…
belgia membawa keingin tahuan saya pada seni bangunan….

Posted by: rinastiti | January 11, 2008

Kroller-Muller Museum

Aku selalu merasa bahwa dari sekian banyak cabang seni, aku paling tidak bisa menikmati dan memahami seni lukis.
Seni musik, sungguh melekat pada diriku sejak kecil.
Bernyanyi, bermain dan mendengarkan musik seakan menjadi hal yang tidak bisa kutinggalkan.
Seni tari…?
Aku masih bisa menikmatinya, meski sebatas pada keterlibatan indra penglihatan saja, tanpa bisa melakoninya.
Seni patung, pahat…?
Hmmm… agak rumit juga, namun lebih simple dibandingkan seni lukis.


Aliran-aliran dalam seni seperti surealisme, kubisme, romantisme, naturalisme, de stijl, fauvisme, neo-impresionisme….
Uuu… sulit untuk mengerti dan tidak tahu apa beda antara yang satu dengan yang lain.
Lukisan-lukisan yang tergambar lugas seperti bentuk aslinya, aku masih bisa menikmati.
Tetapi ketika lukisan sudah berbentuk abstrak atau sesuatu yang tak jelas, dimataku kanvas itu tampak seperti coretan-coretan penuh warna yang tidak bisa aku tebak maksut dari setiap coretan itu.

Ketertarikanku akan seni lukis mulai berubah sejak aku Kroller-Muller museum di Hoge-Velluwe park .

Museum ini terletak jauh didalam sebuah National Park di Belanda.
Untuk mencapainya kami harus menggunakan sepeda berwarna putih yang secara gratis disediakan untuk pengunjung agar dapat menjelajahi taman yang memang sangat luas.
Perjalanan menuju museum bagiku saat itu terasa romantis.
Persis seperti bayanganku akan musim gugur yang berpulaskan daun dengan gradasi warna yang menakjubkan.
Jalan setapak dipenuhi oleh guguran daun berwarna coklat dan merah.
Pohon-pohon besar disepanjang tepi membuat matahari yang kebetulan muncul ditengah sedikit dingin membuat kami tidak kepanasan.
Ahhh…. musim gugur memang membawa keindahan sendiri.
Keindahan yang lain dengan keindahan yang dibawa semi.

Well…
kembali ke kisah si musium.
Sepanjang jalan menuju musium, banyak patung yang dapat dinikmati.
Satu yang membuatku kagum adalah sebuah karya berbentuk pohon, lengkap dengan daun-daunnya.
Pada awalnya, dari jauh aku mengira itu adalah pohon sungguhan.
Sesampai di musium, jaket tebal yang kami kenakan harus dititipkan.
Dan oooh….
baru kali ini aku merasa takjub terhadap apa yang disebut seni lukis.
Yang menakjubkan lagi, ternyata di museum inilah lukisan Van Gogh paling banyak tersimpan.
Ada satu hal yang patut dicatat.
Lukisan-lukisan van Gogh ini terpampang di 2 buah hall.
Hall pertama menampilkan lukisan yang begitu penuh warna.
Lukisan manusiapun juga pasti menggambarkan manusia yang bahagia dan berbaju penuh warna.
Di Hall yang ke-2, nampak sekali bedanya.
Lukisan-lukisan yang ia cipta banyak menggunakan warna gelap.
Kesan suram, murung dan kesendirian tampak jelas disana.
Bahkan ada beberapa wajah yang terlukis polos, tak bermata, berhidung, berbibir.

Aku bertanya-tanya sendiri, apa yang ada dibenaknya saat ia melukiskan semua ini, baik yang penuh warna maupun yang suram.
Mungkinkah ia mulai melukis “kegelapan” ketika ia mulai mengalami gangguan jiwa…?

Ketakjubanku akan isi Kroller-Muller museum membuat aku mulai tertarik untuk mengenal lukisan dan sejarah pelukis-pelukis besar.
Ternyata tidak kalah mengasyikkan dibandingkan mengenal Bach, Tchaikovsky, Hyden dsb.
Memandang lukisan juga ternyata tidak kalah cool dengan mendengarkan symphony orchestra….

Posted by: rinastiti | December 22, 2007

Pertanyaan

Saat ini, aku sampai pada tahap menulis yang ternyata susah sungguh.

Merasa tidak mampu,  merasa tidak tau lagi bagaimana harus belajar.

Hingga¬†sampai¬†pada¬†pertanyaan,¬†untuk¬†apa¬†aku¬†menjalani¬†semua¬†“penyiksaan¬†diri”¬†ini…..?

Berdiam¬†dalam¬†Renungan¬†Anthony¬†de¬†Mello,¬†SJ…

membantuku bertanya kedalam diriku sendiri 

Tanya rahib:

‘Semua gunung dan sungai ini, bumi dan bintang-bintang – dari manakah asalnya?

Kata Guru:

‘Pertanyaanmu dati manakah asalnya?’


Lihatlah ke dalam!

Posted by: rinastiti | December 22, 2007

Stem Cell derived from pulp cells

Berawal dari perbincangan dengan seorang teman
mengenai Parkinson dissease, saya jadi teringat
pembicaraan april lalu dengan supervisor saya mengenai
penemuan bahwa syaraf gigi (tooth pulp) diduga
merupakan sumber yang bagus untuk stem cell.
Dari penemuan itu, Journal of Endodontic impact
factornya meningkat pesat, jadi tertinggi diantara
jurnal2 kedokteran gigi.
(note : Endodontic adalah cabang keilmuan kedokteran
gigi yang nguplek-nguplek masalah syaraf gigi, dan
saya harus say good bye terhadap endodontic sejak
sekolah di Groningen ini)

Seandainya penelitian awal ini terbukti, jelas akan
mempermudah kita semua untuk mempunyai “persedian”
sumber sel, karena :
1. Ga perlu mengusahakan kehamilan atau punya anak
terlebih dahulu untuk mendapatkan stem cell, karena
selama ini yang terbukti potent adalah tali pusat
bayi.

2. Kita punya banyak gigi, ambil saja yang tidak
berfungsi yaitu wisdom teeth kita. Lalu simpan stem
cell nya di tissue bank.
Wisdom teeth untuk manusia modern yang sudah
berevolusi terbukti lebih banyak menimbulkan masalah,
dengan posisinya yang miring atau tidak tumbuh. Jadi
suka pusing, jadi lehernya sering sakit.
(karena rahang mausia modern lebih kecil, sehingga
tidak cukup tempat lagi bagi wisdom teeth untuk tumbuh
secara sempurna. Jadi bagi yang wisdom teethnya masih
4 dan tumbuh sempurna, berarti anda… heheheh silakan
menyimpulkan sendiri)

3. Di british medical journal, saya baca bahwa 12-20
cells di gigi susu adalah stem cell, yang lebih potent
dari gigi permanen.
Tapi apa iya, kita mau nyabutin gigi anak kita supaya
bisa dapat stem cell yang ok..?
Meski secara ilmu kedokteran gigi, cukup mudah.
Cabut aja yang udah goyah sedikit, tapi akarnya masih
ada. Ga pelu anestesi suntikan, cukup topikal, dan
anak dialihkan perhatiannya, lalu cabut saja secara
cepat, habis itu anak disuruh minum es krim
banyak-banyak. Setelah itu.. daerah yang kosong diberi
alat yang bernama space maintainer, biar tetap kosong
sampai gigi permanen yang menggantikannya siap untuk
tumbuh, sehingga susunan gigi anak tetep rapi, tidak
crowded.
Tapi, secara etik jelas nggak banget kan, cara seperti
ini.

So.. buat teman-teman yang mau mencabutkan wisdom
teethnya atau gigi geraham kecilnya untuk keperluan
perawatan ortodonsi, jangan lupa disimpen ya.
Meski masih banyak kontroversi dari sisi sosial maupun
etik, jelas stem cell dapat menjadi solusi banyak
penyakit, karena kemampuannya berdiferensiasi menjadi
bermacam-macam sel.

Berikut adalah berita dari ADA (american dental
association) tentang hal ini..

Banking Baby, Wisdom Teeth For Stem Cells

Baby and wisdom teeth, along with jawbone and
periodontal ligament, are non-controversial sources of
stem cells that could be “banked” for future health
needs, according to a National Institutes of Health
researcher who spoke today at the American Dental
Association’s national media conference.

Harvested from the pulp layer inside the teeth,
jawbone and periodontal ligament, these stem cells may
one day correct periodontal defects and cleft palate,
and may help restore nerve cells lost in diseases such
as Parkinson’s, according to Pamela Gehron Robey,
Ph.D., Chief, Craniofacial and Skeletal Diseases
Branch, National Institute of Dental and Craniofacial
Research of the National Institutes of Health,
Department of Health and Human Services.

The stem cells have the potential to save injured
teeth and grow jawbone. Regenerating an entire tooth
is on the horizon, and years from now, Dr. Robey said
stem cells from teeth and jawbone might be used to
correct cleft palate, one of the most common birth
defects, sparing children multiple surgeries.

“As long as a cell has a nucleus, anything is
possible,” Dr. Robey states.

In time, individuals may be able to bank their own
stem cells from baby and wisdom teeth, similar to the
way umbilical cord blood is stored. At present,
commercial facilities to store stem cells from teeth
are not available.

According to Dr. Robey, the viability of stem cells
derived from baby teeth is determined by when the
tooth comes out. The longer a loose tooth is left in
the mouth to fall out on its own, the less viable it
is as a source of stem cells.

As research in the field progresses, Dr. Robey hopes
that stem cells from baby and wisdom teeth may one day
restore nerve cells damaged by diseases such as
Parkinson’s Disease, one of the most common
neurological disorders affecting the elderly.

“The stem cells from jawbone and teeth share a common
origin with nerve tissue,” Dr. Robey points out. “With
the proper cues, researchers may be able to encourage
them to form nerve-like tissue which may restore cells
that make dopamine, but much more work is needed.”
Dopamine is a brain chemical that nerve cells need to
properly function.

To extract the stem cells from teeth, researchers can
remove the periodontal ligament, drill into the tooth
to remove the crown and then extract the pulp which is
placed in an enzyme solution to release the stem
cells. From jawbone, cells can be isolated by
collecting marrow following a tooth extraction, for
example, or by biopsy.

Posted by: rinastiti | December 22, 2007

Hari Ibu

Pagi ini,setelah mendapat pelukan selamat Hari Ibu
dari kekasih kecilku, iseng aku bertanya kepadanya.
“Menurutmu, apa yang membedakan laki-laki dan
perempuan”
ia menjawab, “Jenis kelaminnya, selain itu ibu
melahirkan aku, bapak enggak”

Betapa istimewanya menjadi seorang ibu, mahluk
citraNya yang diberi anugerah istimewa merasakan
kehidupan yang menyatu dengan tubuhnya.

Semua teman yang seorang ibu, pasti pernah
mendengarkan kalimat semacam ini ketika secara fisik
kita tidak dapat menjangkau mutiara-mutiara kita,
“Ibu… aku kemarin mimpi buruk, dan ingin dipeluk
ibu.”
“Ibu… aku cerita sama teman-teman dan guruku kalau
ibu sekolah di Belanda.”
“Ibu…. aku tadi membantu bapak menyiapkan makan
malam”
“Ibu.. kapan ibu pulang, aku kepingin didongengi ibu
kalau malam”

Disetiap pengembaraan seorang ibu, betapapun jauhnya
ataupun melelahkannya, ia tak akan pernah bisa
melepaskan setiap kehidupan yang boleh terlahir dari
rahimnya.
Setinggi apapun pencapaian yang ingin diraihnya,
ingatan akan mulut kecil yang bergantung padanya
dengan mencecap air susunya akan selalu memanggilnya
kembali.
Sudahkah hari ini kita mengatakan bahwa kita sungguh
mencintai anak-anak kita dan berterimakasih karena ia
mau menjadi bagian dari hidup kita …?

Disaat kita sendiri, ketika hati begitu sepi, setiap
dari kita pasti akan teringat betapa amannya bergelung
dalam pelukan ibu.
Ketika kita seakan tersesat dan tak mengerti jalan
pulang, kita pasti mengingat genggaman tangan ibu yang
menuntun kita pulang ke rumah dengan aman.
Pada saat kita merasa begitu bodoh, ingin rasanya
menceritakan semua pada ibu, yang kita tau pasti tak
akan pernah menertawakan kekonyolan kita.
Sudahkah hari ini kita mengatakan bahwa kita
mencintai ibu kita dan berterima kasih atas cinta tak
bersyarat yang ia berikan….?

Selamat Hari Ibu….

Posted by: rinastiti | November 30, 2007

Spesialisasi di Kedokteran Gigi

Semua orang tau, bahwa ada banyak spesialisasi di bidang kedokteran.

Tetapi tidak semua orang tau hal itu berlaku juga di kedokteran gigi,

meski tentu saja tidak sebanyak spesialisasi di bidang kedokteran.

Sistem kesehatan di Indonesia,

menyebabkan pasien bebas memilih sendiri pergi ke dokter siapa,

spesialis A atau B,

meski terkadang ketika pasien memutuskan sendiri,

penyakitnya belum tentu cocok

dengan kompetensi dokter spesialis tersebut.

Tapi, ya bagaimana lagi.

Begitulah sistem yang berlaku,

meski seharusnya pertama-tama

pasien harus datang ke general practitioner dulu,

baru ketika dokter GP tersebut tidak berwenang dan

berkompeten menangani kasus tersebut,

pasien dirujuk kepada dokter spesialis.

Mengingat sistem yang demikian,

sebagai pasien yang cerdas,

harusnya kita semua mengerti juga,

apa saja sih spesialisasi di bidang kedokteran gigi.

Contoh paling gampang, tidak mungkin bukan, ketika anda hamil,

anda pergi ke dokter spesialis penyakit dalam

untuk memeriksakan kehamilan anda.

Anda pasti pergi ke seorang dokter kandungan.

Demikian juga halnya jika kita  sakit gigi

Seseorang yang mengalami gangguan pada daerah gigi dan mulutnya

dalam kualifikasi yang tidak bisa ditangani

oleh general practitioner,

juga harus dirujuk

atau pergi ke dokter gigi spesialis yang berkompeten.

Berikut adalah informasi pendek

mengenai spesialisasi di Kedokteran gigi :

1. Bedah Mulut (Sp.BM)

Menangani berbagai kasus di daerah gigi dan mulut

yang memerlukan tindakan bedah

untuk terapinya yang terbagi menjadi bedah minor

dan bedah mayor.

Contoh Bedah minor : operasi gigi geraham ke-3

(impaksi molar-3) yang tumbuh tidak sempurna, miring

atau tertanam seluruhnya (embeded)

Contoh Bedah mayor : terapi pengangkatan tumor,

retak/patah (fraktur) rahang,

operasi bibir sumbing.

2. Oral Medicine (Sp.OM)

Bisa dikatakan spesialisasi ini adalah seperti internis

atau ahli penyakit dalam-nya kedokteran gigi.

Berkaitan dengan penyakit-penyakit di rongga mulut.

Misal : cancer, adanya manivestasi virus HIV di rongga mulut, jamur,

termasuk juga gerodontology atau manifestasi proses penuaan di rongga mulut.

3. Konservasi Gigi (Sp.KG)

Spesialisasi yang menangani masalah restorasi gigi (esthetic restoration)

termasuk perawatan terhadap kelainan jaringan syaraf.

Sehingga secara garis besar mencakup tindakan

Operative Dentistry (misal : menambal gigi yang belubang,

melakukan restorasi jaket,

pelapisan gigi yang mengalami perubahan warna,

bleaching atau pemutihan gigi)

dan endodontic (perawatan kerusakan jaringan syaraf

atau yang disebut pulpa gigi,

termasuk juga tindakan bedah endodonsi)

4. Prostodonsia (Sp.Prost)

Menangani masalah ketiadaan gigi di rongga mulut,

dengan menggantinya menggunakan gigi palsu.

Baik gigi palsu lepasan, cekat maupun implant.

5. Periodonsia (Sp. Per)

Menangani segala kelainan jaringan periodontal. Jaringan periodontal adalah  jaringan yang mendukung gigi, termasuk gusi, dan jaringan tulang disekitarnya. Mencakup juga beberapa tindakan bedah yang disebut bedah periodontal.

Contoh : perawatan peradangan gusi, kegoyahan gigi karena kerusakan jaringan tulang disekitarnya, tindakan operatif  perawatan gusi yang naik (resesi) dan mengakibatkan terbukanya akar gigi

6. Pedodonsia (Sp.KGA)

Merupakan spesialis Kedokteran Gigi Anak, jelas berperan seperti dokter anak,

untuk seluruh masalah gigi dan mulut pada anak-anak

7. Orthodonsia (Sp.Orth)
merupakan salah satu spesialisasi yang sangat populer di masyarakat. Spesialisasi yang berkomepten merapikan susunan gigi yang tidak teratur.

Yang menjadi trend adalah pemasangan bracket atau alat ortodonsi cekat.

Jadi…

jangan salah lagi memilih dokter gigi.

Tulisan pendek ini hanya sebagai informasi singkat.

Posted by: rinastiti | June 22, 2007

Kole-kole

Sebagai yang awal dan pertama

Beberapa hari lalu, aku baca sebuah buku bertajuk biarkanlah kole-kole itu terus melaju.

Berisi pengalaman para biarawati CB dalam menjalani panggilan dan tugasnya.

Kole-kole, sebuah perahu kecil yang sederhana, tak berlayar dan tak bermesin.

Toh mampu membawa penumpangnya untuk mengarungi laut, sampai ke tujuan

dengan selamat.

Aku berpikir..

dalam menjalani hidup, ada  kalanya kita tidak memerlukan kapal yang besar dan berteknologi canggih  untuk sampai ke tujuan.

Sebuah kole-kole sederhana,

memampukan kita untuk selalu siap menghadapi kesulitan,

membuat kita tetap waspada serta tidak melulu mengandalkan

apa yang disebut teknologi.

Bukankah hidup juga adalah kumpulan hal sederhana..?

Ya.. biarkanlah kole-kole itu terus melaju

Setenang atau sedahsyat apapun arus dan angin yang membawa

« Newer Posts

Categories