Posted by: rinastiti | September 30, 2008

Privacy

Dan demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah tak boleh diceraikan manusia.

Itulah satu ayat yang sering dipilih pasangan pengantin ketika mereka menikah di Gereja.
Dua pribadi menjadi satu, yang menurut penafsiranku adalah menjadi satu dalam membangun keluarga tanpa perlu membelenggu pribadi yang lain.
Masing-masing pribadi masih tetap berkehendak bebas, namun cinta dan campur tangan Tuhan sendiri mengikatnya dalam satu perkawinan.

Kemana, arah tulisan ini..?
10 menit yang lalu, saya membaca salah satu artikel di sebuah majalah gaya hidup wanita secara online.
Topiknya simple, tapi cukup menarik.
Seberapa jauh pasangan boleh masuk ke wilayah kita…?
Jawabannya adalah relatif, sesuai dengan kesepakatan setiap pasangan.
Tulisan tersebut di setting dengan sharing dialog beberapa perempuan yang sudah berpasangan (= menikah..?).

Seorang perempuan menuturkan bahwa mereka cukup ketat memberlakukan batas wilayah privat masing-masing. Dompet, tas kerja, HP, akses email, laptop dan surat-surat pribadi bahkan tabungan (tapi mereka punya tabungan bersama juga) tak boleh diakses oleh pasangan.

Perempuan kedua menuturkan bahwa ia dan pasangannya bebas membuka dompet masing-masing, tabungan dan HP. Sementara email dan laptop merupakan ranah pribadi.

Yang ketiga lebih tipis lagi batasnya. Semua ok saja untuk diulik pasangan, kecuali email.

Saya pikir, dialog para perempuan ini bukan sesimple membahas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh disentuh oleh pasangan.
Menurut saya…. setiap pasangan pasti tetap memerlukan ruang-ruang privat sekuat apapun cinta yang dimiliki pasangan tersebut.
Bukan dengan tujuan merahasiakan dan menyembunyikan sesuatu.
Namun ruang bebas dimana seseorang masih tetap memiliki sesuatu untuk disimpan bagi dirinya sendiri.
Seperti halnya seorang ibu, seorang istri dengan perannya sebagai ibu rumah tangga dan seorang pekerja tetap memerlukan “me time”.
Karena saat-saat dan ruang bebas itu akan memberikan kepada kita kesempatan untuk bereksplorasi dengan ruang pikir, jiwa bahkan badan kita tanpa intervensi siapapun.
Mungkin inilah yang menjadi penyeimbang hidup kita.

Aku berjalan bersamamu, dalam untung dan malang dengan segenap cinta yang kita punya.
Namun aku dan kamu tetap bisa menjadi aku dan kamu……
Kamu adalah kekuatan yang membebaskan aku…..

Groningen, ketika hujan….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: