Posted by: rinastiti | October 10, 2008

Tahun ke-3

Riset ke-3 didedikasikan pada biofilm. Tidak sesimple itu, saya harus set up protocol yang ternyata memakan waktu yang tidak pendek.
Frankly speaking, saya tidak pernah bekerja di lab mikrobiologi yang membutuhkan presisi dalam pengukuran-pengukuran (ah semua riset juga begitu sih), sterilisasi dan hal-hal kecil lain yang seperti tak kasat mata.
Baru kali ini saya merasa sangat nervous masuk ke lab. Hari-hari pertama didampingi lab coach saya, rasanya tangan gemetar memencet pipet2 mikro itu.
Ketika training di lab selesai, dan saya kembali keruangan, saya termangu-mangu dan mulai berpikir,
“Why do I make my life so difficult…?

Jauh dari keluarga, mempelajari banyak hal baru yang lumayan jauh dari bidang saya.
Bersepeda ditengah hujan angin, padahal kalau aku tetap di jogja, aku bisa enak-enak naik mobil.
Terjatuh dari speda saat jalan licin.
Writing part yang kayaknya ga ada progressnya….
Menunggui bakteri yang tumbuh atas kehendaknya sendiri, nggak bisa dipaksa-paksa..
Merasa bahwa banyak hal yang belum dibaca dan dimengerti
Rasanya kok “Fyyyuuuuuh banget”.

Apa yang terjadi denganku…?
Inikah titik jenuh saya…?
Mencoba googling-googling, saya ketemu satu article menarik yang bisa diklik disini
Dan inilah sepenggal kalimat yang kira-kira cocok dengan kondisi saya saat ini :

At times, particularly in the “middle years,” it can be very hard to maintain a positive attitude and stay motivated. Many graduate students suffer from insecurity, anxiety, and even boredom.
Chapman (see [chapman]) enumerates a number of “immobilizing shoulds” that can make you feel so guilty and unworthy that you stop making progress.

Ya mungkin memang proses.
Yang penting adalah staying motivated.
Ayo…….
maju tak gentar…..!!!!!

Advertisements
Posted by: rinastiti | September 30, 2008

Privacy

Dan demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah tak boleh diceraikan manusia.

Itulah satu ayat yang sering dipilih pasangan pengantin ketika mereka menikah di Gereja.
Dua pribadi menjadi satu, yang menurut penafsiranku adalah menjadi satu dalam membangun keluarga tanpa perlu membelenggu pribadi yang lain.
Masing-masing pribadi masih tetap berkehendak bebas, namun cinta dan campur tangan Tuhan sendiri mengikatnya dalam satu perkawinan.

Kemana, arah tulisan ini..?
10 menit yang lalu, saya membaca salah satu artikel di sebuah majalah gaya hidup wanita secara online.
Topiknya simple, tapi cukup menarik.
Seberapa jauh pasangan boleh masuk ke wilayah kita…?
Jawabannya adalah relatif, sesuai dengan kesepakatan setiap pasangan.
Tulisan tersebut di setting dengan sharing dialog beberapa perempuan yang sudah berpasangan (= menikah..?).

Seorang perempuan menuturkan bahwa mereka cukup ketat memberlakukan batas wilayah privat masing-masing. Dompet, tas kerja, HP, akses email, laptop dan surat-surat pribadi bahkan tabungan (tapi mereka punya tabungan bersama juga) tak boleh diakses oleh pasangan.

Perempuan kedua menuturkan bahwa ia dan pasangannya bebas membuka dompet masing-masing, tabungan dan HP. Sementara email dan laptop merupakan ranah pribadi.

Yang ketiga lebih tipis lagi batasnya. Semua ok saja untuk diulik pasangan, kecuali email.

Saya pikir, dialog para perempuan ini bukan sesimple membahas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh disentuh oleh pasangan.
Menurut saya…. setiap pasangan pasti tetap memerlukan ruang-ruang privat sekuat apapun cinta yang dimiliki pasangan tersebut.
Bukan dengan tujuan merahasiakan dan menyembunyikan sesuatu.
Namun ruang bebas dimana seseorang masih tetap memiliki sesuatu untuk disimpan bagi dirinya sendiri.
Seperti halnya seorang ibu, seorang istri dengan perannya sebagai ibu rumah tangga dan seorang pekerja tetap memerlukan “me time”.
Karena saat-saat dan ruang bebas itu akan memberikan kepada kita kesempatan untuk bereksplorasi dengan ruang pikir, jiwa bahkan badan kita tanpa intervensi siapapun.
Mungkin inilah yang menjadi penyeimbang hidup kita.

Aku berjalan bersamamu, dalam untung dan malang dengan segenap cinta yang kita punya.
Namun aku dan kamu tetap bisa menjadi aku dan kamu……
Kamu adalah kekuatan yang membebaskan aku…..

Groningen, ketika hujan….

Posted by: rinastiti | September 30, 2008

As long as i have music

If the life is a stage….
I imagine that it’s a music stage.
We can find the amount of instruments that are waiting for us to be played..
And the harmony will be created….
The harmony that guide us to reach our dreams

For as long as I have music
As long as there’s a song for me to sing
I can find my way
I can see a brighter day
The music in my life will set my spirit free

Posted by: rinastiti | September 30, 2008

Windsor Castle

Instead of Stonehenge, I visited Windsor Castle in my second day.
Windsor Castle, the largest and oldest occupied castle in the world, is one of the official residences of Her Majesty The Queen. The Castle’s dramatic site encapsulates 900 years of British history. It covers an area of 26 acres and contains, as well as a royal palace, a magnificent chapel and the homes and workplaces of a large number of people.
Together with Buckingham Palace in London and Holyrood Palace in Edinburgh, it is one of the principal official residences of the British monarch.

I saw the amazing State apartment and also St George’s Chapel, the finest examples of Gothic architecture in England. But, of course i couldn’t take any picture inside.
I was lucky, to celebrate 60th Birthday of Price Charles, they held a photograph exhibition. We could see the picture of him in his special moment, the letter that he made for his grand mother, his certificate,etc.

The colour of the leave in the autumn reflected God’s magnificence

Posted by: rinastiti | September 27, 2008

Stonehenge

The mysterious stonehenge is located in the English county of Wiltshire, about 3.2 kilometres (2.0 mi) west of Amesbury and 13 kilometres (8.1 mi) north of Salisbury.
Stonehenge was built as a temple and constructed about 5000 years ago in the period of prehistory known as the neolithic or new stone age.

Stonehenge sits within a triangle of land bordered on two sides by busy roads.
That’s way from the parking area we passed the tunnel to Stonehenge area.
We were lucky since the sun was shine when we visited stonehenge. I got the information that usualy the sky over the Stonehenge is cloudy.

The most visible elements of stonehenge are the stones themselves. Some are small, unshaped or broken. But many are massive, finaly worked and intact.
In the past, stonehenge was a simple circular temple. The archeologist found that instead of temple stonehenge also be used as a cemetery.

Posted by: rinastiti | September 27, 2008

Giethorn

Lab Day atau Labuitje merupakan aktivitas tahunan yang diadakan setiap awal summer oleh department kami, Biomedical Engineering, University of Medical Center Groningen.
Pada awal spring, kue yang beberapa diantaranya berisi kertas diedarkan ke seluruh student, teknisi, staf administrasi dan lecturer di Department. Seseorang yang mendapatkan roti berisi kertas tersebut, akan menjadi panitia penyelenggara Lab Day di tahun tersebut
Tempat tujuan Lab Day selalu dirahasiakan oleh panitia. Kami hanya akan tahu setelah sampai tujuan.

Summer 2008, Lab Day diadakan di Giethorn, suatu desa cantik di sebelah utara Belanda yang terkenal dengan sebutan Venice of Holland.

Kami menyusuri kanal-kanal tersebut menggunakan perahu yang digerakkan dengan sebuah tongkat panjang.

Setelah lelah berperahu, kami bersepeda menuju suatu toko kecil yang menjual ikan populer, Paling Fish. Ikan paling adalah ikan yang berbentuk seperti belut, tetapi jauh lebih panjang dan pesar. Ada 2 macam ikan paling ini, yaitu yang berwarna hitam dan berwarna putih. Pemilik toko ikan, seorang fisherman mempertunjukkan slide petualangan dia menangkap ikan-ikan paling berukuran luar biasa. Selain itu mereka juga menerangkan cara pengawetan ikan paling ini.
Kami, Indonesian student berpikir, bisa nggak ya kalau didaerah – daerah pantai Indonesia, diadakan acara seperti ini, pengalaman mereka mengarungi laut dan pengawetan ikan. Bukankah ini hal sederhana yang bisa dijual…?
Tapi lalu kami berpikir, mungkin masyarakat kita belum terbiasa untuk menghargai hal-hal sederhana semacam ini, sehingga kemungkinan acara seperti ini tak akan diminati.
Lha wong museum saja sepi, mosok cara pengawetan ikan bakal laris 😦

Posted by: rinastiti | September 27, 2008

Leuven

Leuven merupakan bagian dari Belgia yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa sehari-harinya. Terletak kurang lebih 20 km di sebelah timur Brussel.
Sebagai seorang student, saya terkesan dengan sebuah patung yang bernama “Fonske” , nama lengkapnya Fons Sapientiae, yang berarti Air terjun kebijaksanaan. Patung ini merepresentasikan university student yang membiarkan kebijaksanaan dan pengetahuan mengakur ke kepalanya.


G
Gereja Saint Michael merupakan salah satu gereja di Leuven yang dibangun dengan tipikal Jesuit Baroque Style.

Kabarnya, Leuven merupakan kota kembar dari ‘s-Hertogenbosch, The Netherlands.
Aku sering penelitian ke Eindhoven yang berarti selalu melewati ‘s-Hertogenbosch, sayangnya aku belum pernah kesana.One day. harus kesana untuk membandingkan kedua kota ini

Posted by: rinastiti | September 27, 2008

Bruges

Bruges (Dutch: Brugge) is the capital and largest city of the province of West Flanders in the Flemish Region of Belgium whereas founded by Vikings in 9th centurt.
It is located in the northwest of the country and called the Venice of the North

Lace is a very popular souvenir from Brugge

I went there in the begining of Summer.
As a medevial city, i imagine that in the autumn, with the orange and brown colour, Brugge will be more romantic.

Posted by: rinastiti | September 22, 2008

Eise Eisinga Planetarium

Macrocosmos and Microcosmos
Dua elemen yang membuat kita takjub akan kebesaran Tuhan.
Dunia mikro dan makro membuat kita merasa semakin kecil, banyak hal diluar diri kita yang tak kita ketahui dan tak terjangkau.
Eise Eisinga Planetarium, didirikan oleh Eise pada tahun 1781.Ia mendedikasikan tiap jengkal rumahnya untuk planetarium itu.
Hari Sabtu cerah, 20 September 2008, kami mengunjungi planetarium itu.
It’s amazing…
Sejak didirikan, pergerakan-pergerakan planet beserta bulan-bulannya menglilingi matahari yang dipasang di ruang tamu rumah Eise tak pernah salah.
Hampir 3 abad yang lalu, dan ia sudah dapat menciptakan planetarium yang demikian lengkap.
Planetarium ini terletak di Franeker, Frisland. Sebuah kota yang ditempuh dengan kereta selama kurang lebih 1 jam dari Groningen.
. Franeker merupakan kota tempat lahirnya universitas tertua di Belanda, Franeker Universiteit. Tetapi entah kenapa universitas ini kemudian tutup, dan muncullah Leiden Universiteit sebagai universitas tertua di Belanda yang masih eksis.
Selain planetarium, kami juga mengunjungi museum. Salah satu ruangan museum men-display perempuan pertama yang berhasil menyelesaikan disertasinya di Franeker Universiteit, yaitu Anna Maria.

Mengunjungi alam makrokosmos dalam bentuk planetarium tua dan museum yang memaparkan sebuah sejarah, hanya membawa kita pada kesadaran, kehidupan kini salah satunya dibentuk oleh kehidupan masa lalu. Ada hal-hal yang sepatutnya diteruskan sebagai sebuah pesan pada generasi berikutnya.

Posted by: rinastiti | May 8, 2008

Dulu, belum saja…

Seminggu yang lalu, dengan beberapa teman kami makan malam bersama dalam rangka penyambutan Ulang Tahun Ratu…:D
Kami berasal dari berbagai background keilmuan, berbagai institusi dan berbagai jenjang pendidikan.
Yang menyatukan kami adalah… status di Belanda : Single. Entah single terselubung, entah single beneran.

Pembicaraan ngalor ngidul mulai dari lagu-lagu menggetarkan di YouTube sampai pada cerita-cerita serius mengenai Indonesia, perkembangan studi dan keluarga terus mengalir sampai pagi.
Saya bilang ke teman-teman : dulu…. saya memilih Kedokteran Gigi karena saya payah banget dalam bidang fisika dan matematika. Lhaa.. sekarang sekolah disini kok ketemu sama cosinus, sama mechanical test.
Salah satu teman saya lalu bilang begini : berarti dulu itu, ketika kamu sekolah di KG apa yang dihadapi sekarang belum terjadi saja kan…ahkirnya ketemu juga.

Hmmmm.. keliatannya simple, tapi setelah saya pikir-pikir betul juga.
Kadang kita menghindari sesuatu karena ketakutan kita, takut tidak mampu, takut tidak menjadi terbaik, takut hal yang buruk akan terjadi.
Namun disisi lain, bukankah ketika kita memilih sesuatu, kita juga harus mempertimbangkan kelemahan dan kekuatan kita bukan…?
Sayapun mengalaminya…
Ketika disini bertemu lagi dengan si cosinus saya jadi panik.
Kemarin ke TU Eindhoven, mendengarkan kuliah singkat dari Bapak Pakar FT-Raman, i felt there was a butterfly in my stomach…
Bisakah aku, mampukah aku, kok sulit begini, analogi dia dengan rumus pitagoras-pun tidak juga masuk di logika berpikirku..
Betul… duluuu.. belum saja
Sekarang aku harus menghadapinya.
Banyak hal-hal baru, lain sekali dengan tesis masterku.
Kata temanku yang lain lagi,
Pilihannya tinggal dua : mati atau berhasil
Ya.. there are two side inside each of us : WINNER or LOOSER
Which one that i choose….?

Older Posts »

Categories